QODARAN

Wong cilik yg tdk pernah dpt THR maupun gaji ke 13

(Sebuah kontemplasi kehidupan rakyat kecil …)

_”Wah…pisangnya bagus-bagus Mbah…”_
kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh yang berjualan di pinggir jalan depan pasar…

_”Lha monggo _dipundut_ (dibeli)…”_
kata perempuan itu riang.

Sungguh sudah sangat sepuh, rautnya penuh kerut. Kulitnya hitam. Kurus badannya.
Tapi suaranya _cemengkling_  masih nyaring), riang. Giginya terlihat masih utuh.

_”Ini kepok kuning… bagus dikolak._
_Ini kepok putih… kalau digoreng sangat manis.._
_Lha kalau itu… pisang pista, kulit tipis… harum manis._
_Tapi jangan dibeli karena belum mateng…_

Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan, meskipun telah _ndredheg_ (gemetar.)
_”Sudah lama jualan, Mbah…?”_

_”Belum, ini ngejar rejeki buat lebaran.”_

__Putranya berapa Mbah?”_

_”Kathah_ (banyak) ..… pada _glidik_ (kerja)…”_

_”Kok nggak istirahat saja to Mbah… siyam-siyam kok jualan”_

_”Lha nggih, ini karena siyam niku to , nggak boleh istirahat…”_
_Mumpung Gusti Allah _paring_ (beri) _sehat…”_

Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu….
Kulihat tangannya mengelap  kening dan dahinya yang _dlèwèran_ (bercucuran) keringat dengan selendang lusuhnya….
Diantara para penjual ‘liar’ dipinggir jalan depan pasar itu, perempuan sepuh ini satu diantaranya yang menggelar dagangan tanpa _iyup iyup_ (peneduh).
Padahal hari itu panas luar biasa.

_”Kalau pulang jam berapa Mbah?”_

_”Jam tiga sudah pulang ..…, lha ada kewajiban nyiapkan _wedang_ (minum) _buat anak-anak TPA.”_

_”Kok kewajiban, yang mewajibkan siapa Mbah ?”_

_”Nggih kula_, (ya saya sendiri) …”

_”Ooo…begitu…. Setiap hari, selama puasa?”_

_“Inggih_… _wong cuma  anak limapuluhan…”_

_”Wah _panjenengan_  (anda) _hebat nggih Mbah…”_

_”Halah cuma wedang sama pegangan kecil-kecil…_
_Yang penting bocah-bocah rajin ngaji…, mbah sudah seneng._
_Jangan bodoh kaya Mbah ini yang cuma bisa Fatihah…”_

Aku makin tercekat.
Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.

_”Kok banyak banget… mau buat apa, mas?_
Tanya si mbah heran.

Aku hanya tersenyum.
_”Semua berapa Mbah?”_

Perempuan sepuh itu menyebutkan nominal yang membuatku tercengang….
_”Kok murah banget Mbah…”_

_”Mboten_ (ah enggak)… _itu sudah pas, ini bukan pisang kulakan_ (dari beli), _panen kebun sendiri…”_

_”Nggih…matur nuwun…”_ kataku sembari mengulurkan uang.

_”Aduh… nggak ada kembalian , belum _kepayon_ (laku)…”

_”Saya tukar dulu Mbah…”_
Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu.
Pisang telah kuletakkan di mobil.
Mesin mobil pun kunyalakan….
Agak menjauh dari perempuan sepuh itu..
Kumasukkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang masih baru, ke dalam amplop,
Cukup dibagi satu satu untuk anak TPA
yang katanya berjumlah limapuluhan tadi.
Penutup lem amplop kubuka lalu kurapatkan.

_Ini mbah, sudah saya tukar, sudah pas _nggih…”_

Perempuan sepuh itu menerima amplop masih dengan tangan _dredheg_ gemetar.
Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.

Esoknya aku mampir lagi…tapi kosong
Berikutnya aku mampir lagi…kosong juga.
Penasaran kutanyakan pada ibu pedangang sebelahnya.
_”Mbahe kok nggak jualan Mbak?”_

_”Oh nggak, beliau … jualan kalau panen pisang aja…_
_Sampeyan to yang kemarin ngasih amplop._
_Walah Mbahe nangis _ngguguk (tersedu2) ..… _jare bejo_, (katanya beruntung) & dapet _qodaran.”_

Barangkali yang dimaksudkan adalah _lailatul qodar._
Malam yang konon lebih baik dari 1000 bulan.
Para malaikat turun dari langit. Ke langit hati kita. Menyelesaikan segala urusan.
Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki,
Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula…
Rejeki sesuai kapasitas kita.
Lantas siapakah yang mendapatkannya ??
………………..
Barangkali perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya.
Bukan karena ia ahli ibadah…
Bukan pula karena I’tikafnya yang  kuat di masjid.
Tapi dialah pelaksana dari yang katanya ‘hanya’ bisa *fatihah* itu.
Kesungguhan I’tikaf yang luar biasa.
Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa.
I’tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha.
Bukan masjid yang sekedar bangunan ibadah.
Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan _wedang_ dan penganan bagi limapuluhan bocah selama puasa, sungguh bukan perkara mudah.
Hanya cinta tuluslah yang bisa.
……………..
Aku jadi teringat  pertanyaan teman,
tentang pencapaian _Lailatul Qadar._
Benarkah memang ia turun di 10 hari terakhir malam ganjil?
Maka …malam terbaik dari 1000 bulan *bukanlah instan…*
Tak bisa _dijujug_ dengan akhiran…
*semua butuh proses…. karena karunia terindah butuh _wadah_*.
_Yang dibangun dengan mengais kebaikan, *sebelum, selama dan sesudah Ramadhan*_.
Itulah sesungguhnya _*QODARAN*_

PERJALANAN MENCARI KEBENARAN

Copas tulisan inspiratif
Eka Pratama Alumni Mesin ITB 2002

Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Saya bukan ustadz. Saya hanya seorang “truth seeker” yang suka menulis. Semoga Allah meluruskan niat saya menulis hanya karena Allah, dan bukan karena yang lain. Tulisan ini pun request dari seseorang (yang dekat) yang bertanya pada saya mengenai temannya, yang memiliki pertanyaan unik mengenai Al-Qur’an. Tentang mengapa ayat Al-Qur’an sering kali sulit dimengerti?

Mengapa ayat-ayat nya seperti meloncat-loncat dan tidak tersusun secara sistematis?
Bagaimana cara meraih maknanya dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita?
Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al -Quran?
Bukankah mampu berbahasa Arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna Qur’an?

Mendengar pertanyan-pertanyaan ini seperti dejavu. Teringat pertanyaan-pertanyaan saya sendiri beberapa tahun yang lalu, yang bahkan lebih liar dari ini. Tapi Alhamdulillah… Justru pertanyaan-pertanyaan seperti itulah, yang jika kita mencari jawabannya dengan tulus dan murni untuk mencari kebenaran (bukan kesombongan), kemudian kita menemukan jawabannya, akan membuat iman kita kokoh dan tak tergoyahkan.

Tulisan ini mungkin tidak bisa menjawab semua pertanyaan di atas. Saya hanya sharing pengalaman saya sendiri, yang mungkin bisa diambil manfaatnya dan dipakai untuk memotivasi. Motivasi untuk terus mencari jawaban, menggunakan segala potensi yang kita miliki, termasuk akal. Dan akal bukanlah logika tanpa batas. Akal adalah logika yang tunduk dan rendah hati.

Motivasi bagi siapapun yang memiliki pertanyaan yang sama, atau bahkan yang sedang mengalami krisis keimanan, atau untuk siapapun yang pada titik tertentu dalam hidupnya mulai bertanya: Mengapa saya ada di sini? Untuk apa sih tujuan hidup ini? Apa yang terjadi setelah saya mati? Dari mana saya tahu saya memiliki keyakinan yang benar?

Well, mari kita mulai.
Alhamdulillah…I was born as a muslim. Yup, orang tua dan keluarga saya juga muslim. (Saya tidak sedang mengomentari istilah agama warisan yang ditulis seorang remaja baru-baru ini, hehe.)

Saya hanya mau menceritakan bahwa saya sangat menyesal karena sangat terlambat menyadari anugrah Allah yang telah menakdirkan saya terlahir di keluarga muslim. Penyesalan yang baru terjadi beberapa tahun ke belakang, mungkin sekitar tahun 2014. Sebelum itu, interest saya terhadap ilmu agama sangat minim, sangat jarang ikut kajian, apalagi baca buku agama. Ibadah pun pas-pasan, shalat subuh sering kesiangan, baca Qur’an jarang-jarang, zakat kadang-kadang, pas ada yang minta bantuan paling enggan, puasa bulan Ramadhan juga datar-datar aja dan lewat begitu aja tanpa ada perubahan. Fokus saya saat itu adalah: uang, bayar utang, menafkahi istri dan anak, membangun rumah tangga, rumah, mobil, pendidikan anak dan sejenisnya. Karena menurut saya pada saat itu, itulah yang bisa mendatangkan kebahagiaan dalam hidup.

Hingga suatu saat ketika utang semakin sedikit, penghasilan makin naik, karir pekerjaan semakin baik (walaupun menuntut waktu lebih banyak dan tanggung jawabnya lebih besar), rumah sudah ada, mobil sudah ada, biaya kesehatan ditanggung, saya mulai suka bertanya sendiri: What’s next? (Selanjutnya apa?).

OK, next-nya mungkin rumah yang lebih bagus, mobil yang lebih bagus, dan sejenisnya. Dan ketika semua itu tercapai, saya mulai ngerasa aneh. Kok kerasa hampa ya? Ngga sebahagia yang dibayangkan sebelumnya. Meanwhile, tanpa disadari tuntutan pekerjaan makin ganas, dan stress mulai melanda. Instead of baca Qur’an, musik-film-game lah yang jadi andelan. Stress memang hilang, tapi sesaat. Besoknya balik ke kantor stress lagi. Sampai akhirnya semua itu mulai berpengaruh ke kesehatan. Mulai sering sakit, daya tahan tubuh drop, sering kena maag, asam lambung, dll. Saya kadang menjadi sedikit delusional, sering membuat lagu sendiri, membuat puisi sendiri, kadang hanyut di alam khayalan dan angan-angan kosong. Rindu akan kedamaian, yang abstrak, yang entah bagaimana mencapainya.

Sampai suatu hari, saya jatuh kepeleset di stasiun dengan posisi jatuh terduduk. Ceritanya panjang sebenernya, singkat cerita saya jadi ngga bisa berdiri, ngga bisa duduk, apalagi jalan, karena setelah diperiksa dokter, ada urat yang kejepit di punggung/pinggang. Ada cairan lumbal disc yang pecah dan menjepit saraf. Saya harus dioperasi, walaupun cuma operasi kecil. Tapi tetep harus dibius total. Saya masih ingat betul, pemandangan terakhir yang saya ingat di ruang operasi, sebelum saya ngga sadar, adalah lampu di atas ruang operasi. Melihat lampu itu dengan syahdu, saya membatin: “Gimana kalau ada yang salah dan saya mati? Inikah akhir perjalanan hidup?”

Alhamdulillah saya masih hidup, dan operasinya berjalan lancar. Beberapa hari kemudian saya sudah bisa pulang ke rumah dan menjalani masa pemulihan. Sudah bisa duduk, berdiri dan berjalan walaupun belum normal. Saya mulai suka bermimpi yang aneh-aneh. Suatu hari saya bermimpi sedang digantung di atas lautan api yang menyala-nyala. Astaghfirullah….mimpinya serasa begitu nyata, sampai pas bangun pun rasanya masih teringat bagaimana panas yang terasa.

Mimpi itu seperti lecutan yang menghantam keras. Setelah itu saya mulai sering membuka Al-Qur’an, dan mulai membaca buku-buku agama. Air mata pun mulai sering menetes. Rasa sesal mulai meresap ke dalam hati.

Mimpi berikutnya tak kalah menakutkan. Ketika terbelalak melihat matahari terbit dari arah barat. Dan seketika itu datang rasa sesal yang begitu nyelekit. Tertutup sudah pintu taubat. Astaghfirullah…

Setelah itu, semangat mempelajari Al-Qur’an semakin menggebu-gebu. Pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri terus terlontar. Saking banyaknya pertayaan sampai harus dicatat untuk dicari jawabannya kemudian. Seperti terlahir kembali menjadi orang yang baru. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa saya ada di dunia ini?”, “Apa tujuan saya ada di sini?”, ” Apa tujuan hidup ini?”, “Apa yang terjadi setelah kita mati?”, “Bagaimana saya tahu apa yang saya yakini ini benar?”, “Apa sih sebenarnya isi Al-Qur’an?”. Bahkan sampai bertanya, “Apa buktinya ya Qur’an itu benar dari Sang Pencipta, dan bukan buatan manusia?”, dan “Apa buktinya ya Islam itu benar?”.

Berhubung pertanyaan saya agak liar, saya kadang menghindari pertanyaan langsung kepada ustadz. Karena setelah saya sensor pertanyaannya pun, seringkali jawabannya kurang memuaskan. Seringkali malah saya mendapat renspon bahwa pertanyaan saya ini ngga patut, dan bahwa keyakinan itu ya harus yakin aja, bahwa agama itu diyakini dengan hati, bukan dengan akal. Dan seringkali diakhiri dengan kata “Pokoknya begini, dan begitu”. Terpaksa saya iya kan aja, walaupun saya membatin, “Kalau keyakinan itu ya harus yakin aja, orang yang beragama lain juga bisa pake argumen yang sama dong. Terus masa ada multiple kebenaran, padahal antara satu dan yang lain bertentangan? Taklid buta dong jadinya.”

Sehingga saya lebih banyak mencari sendiri melalui membaca buku, artikel, menonton video ceramah, dokumenter, dll. Hingga seorang teman memperkenalkan saya dengan video-video Ust. Nouman Ali Khan, begitu juga teman lain yang memperkenalkan dengan video Dr. Zakir Naik. Walaupun tidak pernah bertemu, mereka terasa begitu dekat di hati. Both of them are my heroes. Isi ceramahnya benar-benar persis dengan apa yang saya butuhkan. Saya sangat beruntung, bahasa Inggris yang sehari-hari digunakan di tempat kerja, ternyata sangat berguna untuk mendengarkan ceramah mereka berdua dalam bahasa aslinya.

Saya sangat terinspirasi dengan Dr Zakir Naik ketika beliau sedang berdebat dengan seorang atheis, kemudian beliau berkata, “So you’re an atheist? Congratulation! You’re half a moeslim. To become a moeslim you need to admit that there is no god, except Allah, Laa ilaaha illallah. You already believe there’s no god, correct? Then my job is to convince you another half: illallah, except Allah.” (Jadi anda ateis? Selamat! Berarti anda setengah muslim. Untuk menjadi seorang muslim, anda harus mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Allah, Laa ilaaha illallah. Anda sudah percaya bahwa tidak ada tuhan, benar? Jadi saya tinggal meyakinkan anda setengah bagian berikutnya: illallah, kecuali Allah).

Beliau juga menjelaskan bahwa kunci untuk menjawab pertanyaan: “Apa bukti Islam lah yang benar?”, adalah Al-Qur’an. Bahwa selain menjadi petunjuk dan pedoman hidup, Al-Qur’an juga merupakan sebuah mukjizat. Hard proof bahwa itu memang berasal dari Tuhan Yang Esa, Allah. Beliau menguraikan bagaimana ayat-ayat Qur’an mendahului science sebanyak 1400 tahun. Sesuatu yang baru-baru ini saja ditemukan science, ternyata sudah disebutkan Al-Qur’an 1400 tahun yang lalu, di tengah gurun pasir tandus, melalui Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulis). Siapa kah yang memberi tahu Nabi Sallallahu’alaihi wasallam, jika bukan Allah The Creator.

“Di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(Adz Dzaariyaat: 20-21)

Beberapa di antaranya:
1. Teori Big Bang dan asal usul alam semesta yang baru di era science modern ditemukan (1980an), yang menyatakan bahwa alam semesta saat ini terus mengembang. Dan dulu merupakan suatu kesatuan massa besar namun kemudian terjadi ledakan besar sangat dahsyat (big bang) yang terus mengembangkan alam semesta. Hal ini ternyata sudah diisyaratkan dalam Surat Al-Anbiyaa: 30
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

2. Bulan bercahaya dengan memantulkan sinar matahari. Hal ini juga baru diketahui science modern. Dulu orang menyangka bulan memancarkan cahayanya sendiri. Dan ayat Qur’an sudah menyebutkannya jauh lebih dulu dalam Surat Al-Furqaan: 61 dan juga ayat-ayat lain. Al Qur’an selalu konsisten menyebutkan matahari dengan “Syams” atau “Siraaj (obor)” atau “wahhaaj (lampu menyala)”. Dan cahaya bulan dengan kata ” muniir” yang artinya tidak mengelurkan cahayanya sendiri.

3. Besi yang sekarang ada di bumi, tidak terbentuk saat bumi terbentuk pertama kali. Penemuan astronomi modern mengungkap bahwa logam besi yang ada di bumi ternyata berasal dari benda-benda luar angkasa. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan di dalam inti bintang-bintang raksasa. Hal ini lagi-lagi sudah disebutkan dalam Surat Al Hadid: 25. Pada ayat ini, kata “Anzalnaa” berarti “Kami turunkan”.

4. Gunung sebagai pasak yang memiliki root/akar yang menhujam ke lapisan dalam bumi sebagai penstabil kerak bumi. Hal ini baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat Thaha: 6-7, Surat Al-Anbiyaa:31, dan Surat Lukman:10.

5. Gunung yang bergerak perlahan (beberapa cm per tahun). Juga baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat An Naml:88.

6. Fenomena pembatas antara dua perairan. Seperti di daerah Selat Giblatar, yaitu pertemuan antara Laut Mediterania dan Laut Atlantik. Diungkapkan oleh ahli Oseanografi Francis J. Cousteau. Dan ini sudah disebutkan dalam Surat Ar-Rahman: 19-20 dan An-Naml: 61.

7. Penciptaan manusia di dalam kandungan ibu. Dr Keith Moor, seorang ahli embriologi dibuat takjub dengan begitu akuratnya Al-Qur’an mendeskripsikan perkembangan embrio dalam Surat Al-Alaq:1-2, Surat Al-Mu’minuun:12-14, Surat Al Qiyamah:38 dan Surat Al Hajj: 5.

Dan masih banyak lagi dan tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini karena begitu banyaknya. Subhaanallah…

Sedikit demi sedikit pertanyaan-pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya masing-masing. Di sini saya mulai menyadari betapa pentingnya menguasai bahasa Arab klasik. Karena terjemahan kadang doesn’t even scratch the surface. Terlalu banyak makna yang hilang.

Keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an semakin terasa mantap. Meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab. Kitab agama lain pun ada yang mempunyai kandungan science. Apakah itu berarti kitab mereka pun benar? Untuk meyakinkan, berarti ada satu hal lagi yang harus dipastikan, yaitu apakah informasi yang berada di dalam Al Qur’an itu intact atau utuh dan free from corruption? Di sini juga saya pun bertanya-tanya mengapa ayat-ayat Al Qur’an terlihat seperti melompat-lompat dan seperti tidak sistematis?

Di sinilah kajian-kajian Ust Nouman Ali Khan begitu banyak memberikan jawaban yang memuaskan.

Ust Nouman begitu mendalam membahas sisi linguistik Al-Qur’an, yang membuat saya benar-benar terpukau dengan Al-Qur’an. Semangat untuk belajar bahasa Arab klasik terasa makin menggebu-gebu jadinya. Sebagai seseorang yang hobi menulis dan membuat puisi, saya dibuat takjub dengan surat-surat yang incredibly poetic, terutama surat-surat Makkiyah. Walaupun baru mulai belajar bahasa Arab, I can’t help myself ketika mendengarkan ayat-ayat yang begitu puitis, seringkali tak kuasa menahan air mata yang mengalir, karena keindahan bahasanya yang begitu kuat terasa, meskipun didengar oleh telinga saya yang non-arab. Lebih indah dari lagu atau irama mana pun. Lebih dahsyat dari puisi mana pun. Belum lagi jika ayat itu berhubungan dengan penciptaan atau alam. Bagi penggemar science seperti saya, yang sering nonton video dokumenter tentang alam, bagaimana terbentuknya bumi, luar angkasa, bintang-bintang, blackhole, dan sebagainya, ayat-ayat scientific dan luar biasa puitis itu benar-benar menembus ke dalam jiwa.

Saya pun dibuat takjub dengan Ring Composition Structure di beberapa Surat Madaniyah. Serta ayat-ayat yang incredibly symmetric. It’s so mind boggling, menakjubkan. Jelas sudah, manusia tidak memiliki mental capability untuk membuat yang seperti ini. It’s definitely word of God.

Berikut beberapa contoh-contoh keindahan linguistik dalam Al-Qur’an:
1. Dalam Surat Al-Muddatsir ayat 3, Allah SWT berfirman,
‎ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
Terjemahan simpelnya: “dan agungkanlah Tuhanmu”, sedangkan terjemahan yang lebih mumpuninya: “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”
Huruf و dalam bahasa Arab, sebenarnya tidak selalu berarti “dan”. Huruf و dapat digunakan untuk 21 jenis fungsi, dan salah satunya sebagai isti’naf yaitu untuk memulai kalimat baru. Sehingga sisanya berbunyi رَبَّكَ فَكَبِّر
Nah sekarang perhatikan dengan baik. Kalimat tersebut dimulai dengan huruf ر dan diakhiri dengan huruf ر juga. Huruf kedua adalah huruf ب dan huruf kedua terakhir adalah huruf ب juga. Huruf ketiga adalah huruf ك dan huruf ketiga terakhir adalah huruf ك juga. Dan huruf ف di tengahnya. Subhanallah! Suatu rangkaian simetris yang hanya terdiri dari 7 huruf. Dalam bahasa Indonesia kita perlu menuliskan “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”. Dan Qur’an hanya membutuhkan 7 huruf yang disusun secara sangat elegan.

2. Dalam Surat Ya Sin ayat 40, Allah SWT berfirman,
‎ لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Terjemahannya simpelnya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”
Allah SWT berfirman tentang benda-benda angkasa, dimana masing-masing “berenang”/”melayang”/beredar/berputar pada garis edarnya. Sekarang perhatikan kata كُلٌّ فِي فَلَكٍ
Perhatikan huruf pertama ك dan bagaimana diakhiri dengan huruf ك juga. Huruf kedua adalah ل dan huruf kedua terakhir adalah ل juga. Huruf ketiga adalah ف dan huruf ketiga terakhir adalah ف juga. Dan di pusatnya ada huruf ي
Sekarang mari kita ilustrasikan:
‎ ك – ل – ف – ي – ف – ل – ك
Pusat dari rangkaian huruf tersebut adalah huruf ي yang merupakan huruf pertama kata berikutnya يَسْبَحُونَ yang artinya mengorbit/berputar. Subhaanallah! Bagaimana mungkin manusia bisa merangkai kata sedahsyat ini? It’s so not human. It could only come from God.

3. Ayat Kursi yang tentunya sudah familiar bagi seorang muslim.
Ayat ini terbagi menjadi 9 kalimat:
‎ (1) اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhkluk-Nya)”
‎ (2) لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ
“tidak mengantuk dan tidak tidur”
‎ (3) لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ
“Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”
‎ (4) مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya”
‎ (5) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka”
‎ (6) وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء
“dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki”
‎ (7) وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ
“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”
‎ (8) وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا
“Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya”
‎ (9) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar”

Kalimat pertama diakhiri dengan 2 nama Allah, yaitu الْحَيُّ (Yang Maha Hidup) dan الْقَيُّومُ (Yang Maha Mandiri; Sumber dari segala sesuatu). Dan kalimat pertama ini, memiliki kesamaan dengan kalimat ke-9, dimana juga disebutkan 2 nama Allah, yaitu الْعَلِيُّ (Maha Tinggi) dan الْعَظِيمُ (Maha Besar).

Kemudian lihatlah kalimat ke-2, dan hubungannya dengan kalimat kedua dari akhir (kalimat ke-8). Mengantuk dan tidur adalah sifat makhluk. Manusia misalnya, akan mengantuk jika kelelahan. Tapi bagi Allah, memelihara dan menjaga langit dan bumi tidak membuatnya lelah atau berat.

Kemudian perhatikan kalimat ke-3, dan koneksinya dengan kalimat ketiga dari akhir (kalimat ke-7). Dua kalimat tersebut saling melengkapi. Pada kalimat ketiga, Allah menegaskan bahwa Dia lah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi. Dan pada kalimat ke-7, Allah menegaskan bahwa Kursi-Nya, Kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi. Di dunia ini, pemilik yang memiliki suatu properti, belum tentu penguasa/raja yang memiliki kerajaan/authority. Dan raja yang memiliki kekuasaan, belum tentu sebagai pemilik. Karena kepemilikan itu, terhadap suatu objek atau properti. Sedangkan kerajaan adalah mengenai kekuasaan untuk mengendalikan orang. Di dalam ayat ini Allah sedang menegaskan bahwa Allah adalah Pemilik sekaligus Raja bagi langit dan bumi.

Kemudian kalimat ke-4, dan hubungan maknanya dengan kalimat keempat dari akhir (kalimat ke-6). Di kalimat ke-4 Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki authority, kecuali Allah memberikannya. Dan ini dilengkapi dengan kalimat ke-6 yang menegaskan bahwa tak ada seorang pun yang memiliki ilmu-Nya, kecuali Allah menghendakinya.

Dan lihatlah bagaimana kalimat ke-5 yang berada di tengah, yang bertindak bagai cermin bagi kalimat di depan dan di belakangnya, sambil menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di depan dan di belakang mereka.
Who speak like that? Subhaanallah! So beautiful!

4. Surat Al-Baqarah, surat terpanjang dalam Al-Qur’an, dengan jumlah 286 ayat, has take the symmetry to the whole new level. Struktur ini dinamakan Ring Composition Structure. Hal ini baru-baru ini saja ditemukan melalui penelitian linguistik modern.

Surat ini bisa dibagi menjadi 9 bagian, berdasarkan tema:
Bagian 1: Keimanan & Kekafiran
Bagian 2: Penciptaan & Pengetahuan
Bagian 3: Hukum yang diberikan kepada Bani Israil
Bagian 4: Ujian yang telah dijalani Nabi Ibrahim
Bagian 5: Perpindahan arah kiblat shalat
Bagian 6: Muslim akan diuji
Bagian 7: Hukum yang diberikan kepada muslim
Bagian 8: Penciptaan & Pengetahuan
Bagian 9: Keimanan & Kekafiran

Perhatikan bagaimana kesembilan tema tersebut simetris dan seperti membentuk struktur cincin, dengan bagian ke-5 sebagai cermin atau pusat tema. Dan di dalam bagian ke-5 ini terdapat ayat ke-143, yang posisinya tepat di tengah surat (total ayat ada 286), perhatikanlah bunyi ayat ini:

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)

Subhaanallah! Pernyataan umat Islam sebagai umat pertengahan, lokasinya tepat berada di tengah surat ini.

Dan ternyata struktur ini bukan hanya ada pada level makro (tema) saja. Tetapi juga pada sub-tema. Jadi terdapat struktur cincin di dalam cincin. Misalnya saja pada Bagian 8 – Penciptaan & Pengetahuan:

Bagian awal (ayat 254): Mukmin harus mengeluarkan sebagian harta dari apa yang Allah berikan

Bagian tengah (ayat 255-260): Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Allah memberi kehidupan dan kematian.

Bagian akhir (ayat 261-284): Perumpamaan tentang zakat/sedekah

Bahkan struktur ini tidak berhenti pada level sub-tema saja, tapi bahkan pada level ayat. Misalnya ayat 255 yaitu ayat Kursi yang telah dibahas sebelumnya.
Subhaanallah!

Level kepresisian yang menakjubkan ini, jelas terasa sebagai mukjizat ketika mempelajari Sirah Nabawiyah atau sejarah Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Saat itu, saya baru paham bahwa ayat-ayat Qur’an itu diturunkan secara piecemeal, sedikit demi sedikit, sesuai dengan kejadian atau tantangan-tantangan yang dihadapi Nabi Sallallahu’alaihi wasallam saat menjalani misinya sebagai Rasulullah. Dengan kata lain, ayat-ayat yang turun adalah jawaban terhadap kejadian atau tantangan yang dihadapi tersebut. Dan kejadian atau tantangan tersebut jelas-jelas di luar kontrol beliau. Contoh kongkrit nya misalnya: Seseorang mukmin bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan, atau ketika musuh menantang beliau. Respon dari hal ini berupa turunnya ayat kepada beliau, menjawab situasi spesifik yang beliau hadapi. Dan turunnya ayat ini tidak harus berurutan di surat yang sama dan tidak harus turun secara kronologis. Selama kurun waktu 23 tahun, ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan, out of sequence (tidak berurutan). Segera setelah suatu ayat turun, barulah Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassallam akan diinstruksikan oleh Allah untuk meletakkan ayat ini di posisi ini di surat ini. Dan ayat itu di posisi itu di surat itu. Dan seterusnya, sehingga posisinya fixed.

Dan perlu diingat, pada saat itu Qur’an adalah oral tradition. Para sahabat Nabi tidak melihat Qur’an seperti kita sekarang, dalam bentuk kitab (tertulis). Mereka mendengar Al-Qur’an. It’s an audio experience, not visual experience. Sebuah pengalaman audio namun setelah dituliskan ternyata membentuk suatu struktur linguistik yang luar biasa. Is that humanly possible?

Al-Qur’an ini, tidak seperti buku biasa buatan manusia. Ayat yang sekilas terlihat melompat-lompat ternyata membentuk suatu struktur yang luar biasa.

Fakta lain sebagai hard proof bahwa Al-Qur’an memiliki struktur linguistik yang perfectly balanced adalah statistik kata di dalamnya. Di era modern ini Al-Qur’an sudah bisa dianalisis struktur linguistiknya menggunakan komputer. Jumlah total suatu kata tertentu dalam Al-Qur’an bisa dihitung dengan cepat dan mudah. Perhatikan fakta-fakta berikut:
– Kata “ad-dunya” (dunia) terhitung sebanyak 115 kali. Dan kata “al akhirat” (akhirat) persis sama sebanyak 115 kali.
– Kata “malaaikat” (malaikat) terhitung sebanyak 88 kali. Dan begitupun kata “Syayaatiin” (syaitan) sebanyak 88 kali.
– Kata “al-hayaat” (Kehidupan) terhitung sebanyak 145 kali. Dan begitupun kata kematian sebanyak 145 kali.
– Kata “Ash-shaalihaat” (amal baik) terhitung sebanyak 167 kali. Dan begitupun kata “As-saya-aat” (amal buruk) juga sebanyak 167 kali.
– Kata “ibliis” (iblis) terhitung sebanyak 11 kali. Dan kata berlindung dari iblis, terhitung sebanyak 11 kali.
– Frasa “mereka berkata”, terhitung sebanyak 332 kali. Dan kata “Katakanlah”, juga sebanyak 332 kali.
– Kata “bulan” sebanyak 12 kali
– Kata “hari” sebanyak 365 kali

Again, is that humanly possible?

Saya begitu dibombardir dengan kedahsyatan mukjizat Al-Qur’an. Dan ternyata itu belum selesai. Al-Qur’an juga menawarkan dahsyatnya struktur matematis yang dimilikinya. Salah satu yang mencolok adalah huruf-huruf initial yang mengawali beberapa surat seperti ق di Surat Qaf, huruf يس di Surat Ya Sin, dan sebagainya. Mari kita perhatikan beberapa contoh berikut:

– Jumlah huruf ق di Surat Qaf ada 57. Dan 57 =
3 x 19. Artinya, 57 adalah kelipatan 19. Sehingga jumlah huruf ق di Surat Qaf merupakan kelipatan 19.
Dan ternyata jumlah huruf ق di Surat Asy-Syura juga ada 57. Jika jumlah huruf ق di kedua surat itu dijumlahkan, 57 + 57 = 114. Dan 114 = 2 x 3 x 19. Kelipatan 19 lagi.

– Jumlah huruf ي di Surat Ya Sin ada 237, dan jumlah huruf س ada 48. Jika dijumlahkan, 237 + 48 = 285. Dan 285 = 3 x 5 x 19. Kelipatan 19 lagi.

– Jika initial حم yang terdapat pada Surat Al-Mu’min, Surat Al-Fussilat, Surat Asy-Syura, Surat Az-Zukhruf, Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Jasiyah, dan Surat Al-Ahqaf, dijumlahkan maka:
Surat Al-Mu’min: terdapat 64 huruf “ha” dan 380 huruf “mim”
Surat Al-Fussilat: terdapat 48 huruf “ha” dan 276 huruf “mim”
Surat Asy-Syura: terdapat 53 huruf “ha” dan 300 huruf “mim”
Surat Az-Zukhruf: terdapat 44 huruf “ha” dan 324 huruf “mim”
Surat Ad-Dukhan: terdapat 16 huruf “ha” dan 150 huruf “mim”
Surat Al-Jasiyah: terdapat 31 huruf “ha” dan 200 huruf “mim”
Surat Al-Ahqaf: terdapat 36 huruf “ha” dan 225 huruf “mim”
Jika kita jumlahkan semua, hasilnya: 2147. Dan 2147 = 113 x 19. Kelipatan 19 lagi.

– Initial عسق di Surat Asy-Syura juga tidak terlepas dari ini. Jumlah huruf ع ada 98. Jumlah huruf س ada 54. Jumlah huruf ق ada 57. Jika dijumlahkan, 98 + 54 + 57 = 209. Dan 209 = 11 x 19. Kelipatan 19 lagi.

– Begitu pun initial كهيعص di Surat Maryam. Terdapat 137 huruf “Kaf”, 175 huruf “Ha”, 343 huruf “Ya”, 117 huruf “Ain”, dan 26 huruf “Shad”. Jika dijumlahkan, 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798. Dan 798 = 2 x 3 x 7 x 19. Kelipatan 19 lagi.

Subhaanallah! Jika Al-Qur’an ini sudah tercampuri tangan manusia (corrupted), dan misalnya satu huruf ق saja hilang, atau huruf ي hilang, atau huruf lainnya, maka saya tidak akan bisa menikmati mukjizat kelipatan 19 ini sekarang. Dan perhatikanlah Surat Al-Muddatsir ayat 27-31 berikut ini:

“Dan tahukah kamu apa Saqar itu?
Ia tidak meninggalkan dan tidak membiarkan,
Yang menghanguskan kulit manusia.
Di atasnya ada sembilan belas.
Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.”
(QS. Al-Muddatsir: 27-31)

Ini baru beberapa contoh saja. Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bertebaran di dalam Al-Qur’an. Dan semakin dalam kita menyelam ke dalam Al-Qur’an, semakin banyak harta karun yang kita temukan. Dan harta karun itu seperti tidak ada habisnya. Bagai lautan luas. Dan sepertinya kita tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memahami semuanya.

Dan setelah mukjizat demi mukjizat, sudah saat nya hati dan akal kita tunduk kepada Allah. Jalani perintah-perintah Allah di dalam Al-Qur’an. Patuhilah perintah-perintah Rasul-Nya. Atii’ullaha wa atii’urrasul. Taatilah Allah dan Rasul-Nya.

Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Because Al-Qur’an is a “live” guidance. Kita akan terkejut ketika kita sedang menghadapi suatu masalah hidup, dan ketika membuka Al-Qur’an, secara kebetulan kita mendapati ayat yang seakan-akan merespon langsung atas permasalahan kita. Ketika akan melangkah ke dalam kemaksiatan, tiba-tiba saja teringat ayat-ayat Allah yang melarang perbuatan tersebut. We will receive His Guidance thru His words in the Qur’an.

Jadilah hamba-Nya. The summary of entire Qur’an is basically to accept the fact that we are slaves and He is our Master (Ringkasan seluruh Qur’an pada dasarnya adalah untuk menerima kenyataan bahwa kita adalah hamba dan Dia adalah Rabb kita). Satu-satunya tujuan hidup kita, the sole purpose of this life, adalah mengabdikan diri kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara agar kita mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya. Kedamaian di Surga-Nya.

‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”
(QS. Az-Zariyat: 55)

Dicopy dari Grup WA

12 Kaum Yang Allah SWT Binasakan’

Dalam Al Quran ,banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah kerana mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang.

Peringatan..!! ’12 Kaum Yang Allah SWT Binasakan’

‘Berikut adalah kaum-kaum yang dibinasakan.Kaum Nabi NuhNabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14).
Kaum Nabi Hud

Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

Kaum Nabi Saleh

Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).Kaum Nabi LuthUmat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu’araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

Kaum Nabi Syuaib
iklntengah
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu’araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).

Firaun

Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).Ashab Al-Sabt.Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A’raaf: 163).

Ashab Al-Rass

Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (ada pula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (Qs Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).

Ashab Al-Ukhdud

Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Alburuuj: 4-9).

Ashab Al-Qaryah

Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13).

Kaum Tubba’

Tubaa’ adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah bendungan air (QS Addukhan: 37).

Kaum Saba

Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma’rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).h

7 Tip Menulis Karya Tulis Ilmiah

Para siswa pasti sepakat kalau ngerjain KTI itu sebenernya seru. Gimana nggak, kita diajak untuk berada lebih dekat dan mengamati lebih dalam isu-isu terdekat yang kita sukai. Pun, nyaris semua siswa yang HAI ajak ngobrol bilang kalau KTI itu banyak manfaatnya.

Tapi, tentu, KTI nggak pernah lepas dari tantangan dan kesulitan. Mulai dari susah nyari buku referensi, nyari narasumber, mewawancara atau nyebar angket. Nah, dari sekian banyak tantangan ternyata yang paling sulit dihadapi itu adalah rasa malas! Hehe, ngaku aja, deh. Kalau udah males, semua hal yang sulit jadi makin ogah dihadapi. Tapi, HAI nggak bakal membiarkan itu terjadi. Nih, HAI kasih beberapa info dan tips biar bikin KTI kamu lancar jaya

 

1. Pilih isu yang kamu suka

 

Yap, penelitian yang baik itu adalah penelitian yang deket banget sama penelitinya. Dengan begitu, kamu bakal terdorong untuk melakukannya secara mendalam.

2. Banyak konsumsi media

Dari mulai beritaonline, surat kabar,berita di TV, dan tentu artikel-artikel di majalah HAI, adalah sumber inspirasi. Dari mulai ide isu penelitian sampai inspirasi dalam menulis, bisa ditemui di sana.

3. Utamakan Sumber Buku Daripada Internet

Alasannya, tentu saja karena buku lebih kredibel informasinya. Lagipula, para guru tahu banget, kalau siswa terlalu banyak nyomot referensi dari Internet kemungkinan copy-pastenya gede. Hehe.

4. Konsultasi Ke Senior

Jangan urung untuk konsultasi ke selain guru pembimbing kamu. kalau punya kakak, atau malah gebetan yang lebih senior, coba konsultasikan penelitianmu ke dia. Siapa tau bisa dapet masukan

5. Tulis, Baca, Tulis Lagi

Nggak ada karya tulis yang bisa bagus secara instan. So, jangan gampang puas. Kalau udah selesai, coba baca lagi, pasti ada aja deh yang perlu diperbaiki. Entah itu typo, kalimat yang nggak sesuai EYD, atau malah dapet ide baru.

6. Cari Referensi Di Tempat Yang Tepat

Lo butuh contoh karya tulis? atau mau liat-liat judul penelitian yang udah pernah ada, beberapa situs ini bisa lo coba:

· e-resources.perpusnas.go.id

Di perpustakaan digital milik pemerintah ini kita bisa mengakses banyak banget penelitian dari dalam atau pun luar negeri, lho. Gratis. Syaratnya, cukup log in aja.

· http://www.academia.edu

Portal yang mewadahi seluruh akademisi manca negara ini adalah sumur yang paling asik untuk cari referensi penelitian. Dari mulai makalah, paper, skripsi sampai disertasi ada di sini.

7. Ngerjain Di Perpustakaan yang Cozy

Butuh cari buku atau sekedar nyari tempat asik untuk ngetik? Perpustakaan cozy ini bisa jadi tempatnya.

· Perpustakaan Kemdikbud

Lokasi: Gedung A Lantai 1 dan Mezanin, JL Jenderal Sudirman, Senayan, 12190, Indonesia

· Perpustakaan Freedom Institute.
Lokasi: Jl. Proklamasi No. 41, Jakarta Pusat

· Jogja Library Center.

Lokasi: Jl. Malioboro No.175, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.

· Perpustakaan Universitas

Yap, hampir tiap kampus pasti punya perpustakannya sendiri. Dan pasti terbuka untuk umum, kok. Nggak usah segan untuk dateng. Beberapa pespus kampus bahkan punya fasilitas lain yang keren. Contohnya, perpustakaannya Universitas Indonesia di Depok sana.

 

Selamat mencoba, sukses ya tugasnya.

 

 

Sumber : http://hai-online.com/Feature/Skulizm/Dapet-Tugas-Karya-Tulis-Ilmiah-Dari-Sekolah-Tenang-7-Tips-Ini-Akan-Memudahkanmu?utm_source=line&utm_medium=app&utm_campaign=share_content&utm_content=article

 

 

Jangan Kaget

Antum jangan kaget ya.. Saya mau ngasih kabar mengejutkan. Pokoknya Antum jangan kaget.

Pernah beberapa kali saya iseng nanya ke teman-teman. Mereka semuanya adalah anak pengajian. Kalau di sekolah atau di kampus, mereka dibilangnya anak rohis atau aktivis dakwah. Ternyata hampir semuanya menjawab:

‘Belum pernah!’

Pertanyaan saya sebenarnya sederhana: “Selama hidup ini, berapa kali Antum menamatkan baca terjemahan al-Qur’an?”

Hayoo… ! Kalau Antum pernah berapa kali? Jangan-jangan belum pernah sekali pun!

Kenapa saya iseng mengajukan pertanyaan seperti ini?

Ceritanya waktu itu, waktu saya masih kuliah, teman sekamar saya pernah nanya tiba-tiba. Tanpa saya sangka-sangka.

_*Ente pernah berapa kali namatin baca terjemahan al-Qur’an?*_

Saya waktu itu nggak bisa jawab langsung. Saya terdiam sejenak. Karena seingat saya, tidak pernah sekalipun saya meniatkan untuk membaca rutin terjemahan al-Qur’an dari awal sampai akhir.

Kalau khatamin al-Qur’an alhamdulillah sering. Terutama di bulan Ramadhan. Tapi kalau namatin baca terjemahannya, sepertinya belum pernah.

Pernah waktu SMA dulu, sambil nunggu waktu Isya, saya biasa baca-baca buku tafsir al-Qur’an yang ada di rak masjid. Tapi nggak sampai selesai. Kesimpulannya memang saya belum pernah sekalipun membaca terjemahan al-Qur’an dari awal sampai akhir, dengan niat untuk menamatkannya.

Teman saya, kemudan berkata:

_*Orang non Muslim ajah ada yang mau membaca terjemah al-Qur’an sampai selesai…*_ _*Banyak yang kemudian dapet hidayah karena baca terjemahan al-Qur’an….*_

Semenjak itu, saya jadi tersadar. Bener juga kata teman saya ini. Mestinya kita orang Islam yang harusnya lebih semangat baca terjemahan al-Qur’an. Bukankah kita sering mengatakan:

Al-Qur’an pedoman kita…
Al-Qur’an adalah petunjuk kita…
Al-Qur’an adalah pelita…
Al-Qur’an ibarat peta…

Namun yang jadi pertanyaan sekarang:

Gimana bisa al-Qur’an jadi petunjuk, kalau artinya saja kita nggak tau???

Nah…!

Ini PR buat kita semua..
Ini renungan buat kita bersama, termasuk saya…

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Hajrul Qur`an (berpaling dari al Qur`an) itu ada beberapa bentuk.

* Pertama : Berpaling tidak mau mendengarkannya, dan tidak mengimaninya.

* Kedua : Tidak mengamalkannya, dan tidak berhenti pada apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkannya, walaupun ia membaca dan mengimaninya.

* Ketiga : Ttidak berhukum dengannya dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) serta cabang-cabangnya.

* Keempat : Tidak merenungi dan tidak memahami, serta tidak mencari tahu maksud yang diinginkan oleh Dzat yang mengatakannya.

* Kelima : Tidak mengobati semua penyakit hatinya dengan al Qur`an, tetapi justru mencari obat dari selainnya. Semua perbuatan ini termasuk dalam firman Allah Azza wa Jalla:

“Rasul berkata : “Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan al Qur`an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. [al Furqan/25 : 30].

(Dikutip dari https://almanhaj.or.id/2767-meraih-cinta-allah-subhanahu-wa-taala-dengan-al-quran.html)

Mungkin ini saja sedikit renungan dari saya..

Semoga yang sedikit ini jadi pengingat untuk kita semua.

Baarakallahu fiikum

Haram Tersentuh Api Neraka

Nabi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram  ( tersentuh api ) neraka ?._ *Para sahabat berkata,*  _”Iya, wahai Rasulalloh!”._ *Beliau menjawab,* _”(Haram tersentuh api neraka) adalah orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, Sahl”_
(HR. At Tirmidzi dan Ibnu Hiban)

*▶1. Hayyin*
Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan dzahir maupun batin. Tidak labil gampang marah, grusah-grusuh dalam segala hal, penuh pertimbangan. Tidak gampangan memaki, melaknat dan ngamuk tersulut berita yang sampai padanya. Teduh jiwanya…

*▶2. Layyin*
Orang yang lembut dan kalem, baik dalam bertutur-kata atau berbuat. Tidak kasar, main cantik sesuai aturan, tidak semaunya sendiri, segalanya tertata rapi. Tidak galak yang suka memarahi orang yang berbeda berbeda pendapat dengannya. Identik tidak suka melakukan pemaksaan pendapat.

*▶3. Qorib*
Bahasa jawanya “gati”, ramah diajak bicara, menyenangkan orang bagi yang mengajak bicara. Tidak acuh tak acuh.Biasanya murah senyum jika bertemu dan wajahnya berseri-seri dan enak dipandang. Mudah untuk diajak berteman.

*▶4. Sahl*
Orang yang *mempermudah*, tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada *solusi bagi setiap permasalahan*. Tidak suka berbelit-belit, *tidak menyusahkan* dan membuat orang lain lari menghindar.

*Keempat kata memiliki makna yang mirip, sama dan saling melengkapi dalam bingkai Akhlakul karimah.*

*Semoga Kita Semua  Termasuk Golongan tersebut … In syaa Alloh*

“YA ALLOH SEBAGAIMANA ENGKAU TELAH *MENCIPTAKAN ( FISIKKU ) DENGAN BAIK MAKA PERBAIKILAH AKHLAKKU…..!*”
(HR. Imam Ahmad)

Hari Jum’at telah hadir, mari membaca al kahfi, memperbanyak istighfar, sholawat, berdoa dan sodaqoh.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih Bermanfaat.

Robbana Taqobbal Minna.
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.

 

Benarkah Kisah “Alqomah Anak Yang Durhaka Kepada Ibunya?

images
Oleh : Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf hafidzahullah
Konon dikisahkan bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada seorang pemuda yang bernama Alqomah. Dia seorang pemuda yang giat beribadah, rajin sholat, banyak puasa dan suka bershodaqoh. Suatu hari dia sakit keras, maka istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meberitahukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tentang keadaan Alqomah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar Rumi dan Bilal bin Robah radhiyallahu ‘anhum untuk melihat keadaannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pergilah kerumah Alqomah dan talqinlah untuk menguncapkan Laa ilaha Illallah.”Akhirnya mereka berangkat kerumahnya, ternyata pada saat itu Alqomah sudah dalam keadaan naza’, maka segeralah mereka mentalqinnya, namun ternyata lisan Alqomah tidak bisa mengucapkan Laa Ilaha Illallah. Langsung saja mereka laporkan kejadian ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya,”Apakah dia masih mempunyai kedua orang tua?” Ada yang menjawab,”Ada, wahai Rasulullah, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah tua renta.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim utusan untuk menemuinya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada utusan tersebut,”Katakan kepada ibunya Alqomah, jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rasulullah, maka datanglah, namun jika tidak, maka biarlah Rasulullah yang datang menemuinya.”

Tatkala utusan itu sampai ketempat ibunya Alqomah, dan pesan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah disampaikan, maka dia berkata,”Sayalah yang lebih berhak untuk mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka dia pun memakai tongkat dan berjalan mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesampainya dirumah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia mengucapkan salam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab salamnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Wahai ibu Alqomah, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Sebab jika engkau berbohong maka akan datang wahyu dari Allah azza wa jalla yang akan memberitahukan (hal itu) kepadaku. Bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqomah?” maka sang ibu menjawab,”Wahai Rasulullah, dia rajin  mengerjakan shalat, banyak puasa, dan senang bersedekah.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya,”Lalu bagaimana perasaanmu terhadapnya?” Dia menjawab,”Saya marah kepadanya wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi, “Kenapa?” Dia menjawab,”Wahai Rasulullah, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya, dan dia pun durhaka kepadaku.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqomah sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.” Kemudian beliau bersabda,”Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.” Si Ibu bertanya,”Wahai Rasulullah, apa yang akan engkau lakukan.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Saya akan membakarnya dihadapanmu.” Dia menjawab,”Wahai Rasulullah, saya tidak tahan apabila engkau membakar anakku dihadapanku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Wahai ibu Alqomah, sesungguhnya adzab Allah azza wa jalla lebih pedih dan lama. Kalau engkau ingin agar Allah azza wa jalla mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqomah. Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sholat, puasa, dan sedekahnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun selagi engkau masih marah kepadanya.” Lantas sang ibu ini berkata,”Wahai Rasulullah, Allah azza wa jalla sebagai saksi, serta semua kaum muslimin yang hadir saat ini, bahwa saya telah ridho kepada anakku Alqomah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu,”Wahai Bilal, pergilah kepadanya dan lihatlah apakah Alqomah sudah bisa mengucapkan syahadat ataukah belum. Barangkali ibu Alqomah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari hatinya, atau barangkali dia hanya malu kepadaku.” Bilal pun berangkat, dan ternyata dia mendengar Alqomah dari dalam rumah mengucapkanLaa Ilaha Illallah. Maka Bilal masuk dan berkata,”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kemarahan ibu Alqomah telah menghalangi lisannya sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat, dan ridhonya telah menjadikannya mampu mengucapkan.”

Dan akhirnya Alqomah meninggal dunia saat itu juga. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya dan memerintahkan agar dia dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mensholatinya dan menguburkannya, dan didekat kuburan itu beliau bersabda,”Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshor, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah azza wa jalla, para malaikat, dan seluruh manusia. Allah azza wa jalla tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertaubat, dan berbuat baik kepada ibunya, serta meminta keridhoannya, karena ridho Allah azza wa jalla tergantung pada ridhonya dan kemarahan Allah azza wa jalla tergantung pada kemarahananya.”

Kemasyhuran Kisah Ini

Kisah ini dengan perincian peristiwanya di atas sangat masyhur di kalangan kaum muslimin. Para penceramah selalu menyebutkan ketika berbicara tentang durhaka kepada kedua orang tuanya. Bahkan sepertinya, jarang sekali kaum muslimin yang tidak mengenal kisah ini. Dan yang semakin membuatnya masyhur adalah bahwa kisah ini terdapat dalam kitab al Kabair yang disandarkan kepada al Hafidz adz Dzahabi rahimahullah. Padahal kitab al Kabair yang terdapat kisah ini, bukanlah tulisan Imam adz Dzahabi rahimahullah, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman rahimahullah dalam kitab beliau Kutubun Hadzara Minha Ulama, juga dalam muqoddimah kitab adz Dzahabi rahimahullah yang sebenarnya.

Kisah ini juga terdapat dalam kitab-kitab yang membicarakan tentang kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua. Namun itu semua tidaklah dapat menjadi jaminan bahwa kisah ini shohih.

Takhrij Hadits Ini

Hadits yang menyebutkan kisah ini secara umum diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/382, Thobroni, Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/197, dan dalam Dala’ilun Nubuwwah 6/205. Semuanya dari jalan: Yazid bin Harun berkata, telah menceritakan kepada kamu Fa’id bin Abdirrohman, (dia) berkata, “Saya mendengar Abdullah bin Abi Aufa berkata,”Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata,”Wahai Rasulullah, disini ada seorang pemuda yang sakaratul maut, dia disuruh untuk mengucapkan syahadat namun tidak bisa mengucapkannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya,”Bukankah dia mengatakannya selama hidupnya?” dijawab,”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali bertanya,”Lalu apa yang menghalanginya untuk mengucapkan syahadat saat akan mati?”…..Lalu selanjutnya diceritakan tentang kisah pemuda ini yang durhaka kepada ibunya, dan keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membakarnya yang akhirnya ibunya ridho kepadanya, dan dia pun bisa mengucapkan syahadat, lalu meniggal dunia sampai akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Segala puji bagi Allah azza wa jalla yang menyelamatkannya dari api neraka.”

Derajat Hadits Ini

Kisah ini : LEMAH SEKALI

Sisi kelemahannya adalah bahwa kisah ini diriwayatkan hanya dari jalur Abul Warqo’ Fa’id bin Abdirrahman, sedangkan dia adalah seorang yang ditinggalkan haditsnya, dan seorang yang  tertuduh berdusta.

Berkata Ibnu Hibban rahimahullah,”Dia termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang terkenal. Dia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa dengan hadits-hadits yang mu’dhol, maka tidak boleh berhujjah dengannya.

Berkata Imam Bukhari rahimahullah,”Dia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa, dan dia seorang yang munkar hadits.”

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah,”Dia orang yang lemah, tidak tsiqoh, dan ditinggalkan haditsnya dengan kesepakatan para ulama.”

Oleh karena itu para ulama telah melemahkan hadits ini, diantaranya:

1. Imam Ahmad dalam Musnad beliau

2. Al Uqoili dalam adh Dhu’afa al Kabir 3/461

3. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/198

4. Ibnul Jauzi dalam al Maudhu’at 3/87

5. Al Mundziri dalam at Targhib wat tarhib 3/222

Karena beliau meriwayatkan kisah ini dengan lafaz (ra waw ya – diriwayatkan). Sedangkan beliau mengatakan dalam muqoddimah kitab tersebut: apabila dalam sanad sebuah hadits terdapat seorang pendusta, pemalsu hadits, tertuduh berdusta, disepakati untuk ditinggalkan haditsnya, lenyap haditsnya, lemah sekali, lemah atau saya tidak menemukan penguat yang memungkinkan untuk mengangkat haditsnya menjadi hasan, maka saya mulai dengan lazadz (ra waw ya – diriwayatkan). Dan saya tidak menyebutkan siapa perowinya juga tidak saya sebutkan sisi cacatnya sama sekali. Dari sini maka sebuah sanad yang lemah bisa diketahui dengan dua tanda, pertama: dimulai dengan lafadz (ra waw ya – diriwayatkan), dan tidak ada keterangan sama sekali setelahnya.”

6. Adz Dzahabi dalam Tartibul Maudhu’at no.874

7. Al Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id 8/148

8. Ibnu ‘Aroq dalam Tanzihusy Syari’ah 2/296

9. Asy Syaukani dalam Al Fawa’id al Majmu’ah

10.  Al Albani dalam Dlo’if Targhib

Ganti Yang Shohih

Setelah diketahui kelemahan hadits ini, maka tidak boleh bagi siapapun untuk menyebutkan kisah ini saat membahas tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dan larangan durhaka kepadanya. Namun perlu diketahui bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah sebuah kewajiban syar’i dan durhaka adalah sebuah keharaman yang nyata. Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan hal ini, diantaranya:

Firman Allah azza wa jalla (yang artinya):

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS.al Isro’:23]

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata,”Saya datang demi berbaiat kepadamu untuk berhijrah, namun saya meninggalkan kedua orang tuaku menangis.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau membuat keduanya menangis.” [HR.Abu Dawud dengan sanad shohih.lihat Shohih Targhib: 2481]

Dari Abdullah bin Umar berkata, “Saya mempunyai seorang istri yang saya cintai, namun Umar membencinya, dan dia mengatakan kepadaku, “Ceraikan dia.” Saya pun enggan untuk menceraikannya. Maka Umar datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menyebutkan kejadian itu, maka Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku,”Ceraikanlah dia.” (HR.Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan beliau menshohihkannya. Berkata Tirmidzi: “Hadits ini Hasan Shohih.”)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Dosa-dosa besar adalah berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa serta sumpah palsu.” (HR.Bukhari)

Dan untuk mengetahui banyak hadits tentang pahala berbuat bakti kepada kedua orang tua dan ancaman bagi yang durhaka kepada keduanya, lihatlah shohih Targhib wat Tarhib Oleh Syaikh al Albani rahimahullah pada bab ini. Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah al Furqon Edisi 06 Tahun ketujuh / Muharrom 1429 / Jan-Feb 2008 Hal.56-58

Artikel: www.kisahislam.net