SARJANA DAN INTELEKTUAL

Catatan Eko Prasetyo

Kepada para mahasiswa prodi ilmu komunikasi Universitas Tribuana Tunggadewi (Unitri) Malang, saya mengingatkan untuk menjadi seorang intelektual, bukan sekadar sarjana. Alasannya?

Tentu saja intelektual tidak akan pernah menjadi penganggur, sedangkan sarjana –diakui atau tidak– ikut menyumbangkan angka pengangguran di tanah air. Mengapa itu bisa terjadi?

Sebab, masih banyak orang yang hanya mengandalkan hidup dari selembar kertas bernama ijazah. Mereka lupa bahwa terjun ke dunia kerja tidak melulu persoalan nilai akademik atau IPK tinggi. Terjun ke dunia kerja juga bukan hanya berarti upaya untuk lolos tes tulis, tes psikologi, tes wawancara, dan tes kesehatan. Kepribadian (karakter), kepemimpinan, kemandirian, dan keberanian mengambil keputusan adalah bagian dari softskill yang juga harus dimiliki seseorang.

Sebaliknya, intelektual merupakan orang yang seimbang dalam softskill dan hardskill. Seorang intelektual tidak menggantungkan hidup dari selembar ijazah. Dia bekerja karena ingin memberikan kontribusi terhadap lingkungan sosialnya selain memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seorang intelektual identik dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sepenuh hati (tulus).

Dalam konsep psikologi yang diperkenalkan oleh psikolog Amerika Dr. Dale Carnegie, seseorang yang mau bekerja keras dan mencintai pekerjaannya tersebut memiliki dua nilai. Pertama, ia mampu menjawab kebutuhan hidupnya. Kedua, ia berupaya memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Bukankah itu sebenarnya juga “pemikiran” Islami. Yaitu, sebaik-baik insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Inilah hakikat intelektual. Maka, anggapan bahwa tidak ada intelektual menganggur itu bisa dipahami.

Tidak sulit mencari bukti sahihnya. Kita bisa melihat bagaimana Susi Pujiastuti yang cemerlang sebagai menteri kelautan. Meski sempat mengenyam pendidikan SMA, ia hanya berijazah terakhir SMP. Dahlan Iskan juga demikian. Ia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya di IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. Namun, kerja keras dan keuletannya mampu mengantarkan dia sebagai suksesor Grup Jawa Pos yang membawahkan lebih dari 200 media di seluruh Indonesia.

Budayawan Ajip Rosidi adalah contoh mutakhir yang tidak kalah hebat. Kendatipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal, karya-karyanya mampu memberikan pengaruh bagi bangsa ini.

Di level luar negeri, kita tentu mengenal Thomas Alva Edison yang terhitung hanya sempat bersekolah sampai kelas 3 SD. Tetapi, percobaannya untuk membuat bola lampu membuat dunia saat ini bagai dihujani bintang di malam hari.

Tulisan ini tidak hendak mengatakan bahwa pendidikan itu tidak penting. Tidak, bukan itu maksudnya. Saya hanya mengajak kita untuk berkontemplasi menjadi sosok pembelajar yang rendah hati. Sebab, hakikatnya, seorang intelektual adalah manusia pembelajar. Ia tidak pernah berhenti belajar di mana saja dan kapan saja. Bukankah kita telah diperintahkan untuk belajar dari buaian hingga ke liang lahat.

Dengan menjadi manusia pembelajar, kita tidak pernah mengklaim diri paling tahu, selalu bersikap rendah hati, dan peka terhadap sekitarnya. Bukan haus pujian dan pengakuan.
Sidoarjo, November 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s