SURGA DI TELAPAK KAKIMU

20161225_113512

Luar biasa ! Itulah jasa orang tua terutama ibu. Tidak satupun makhluk di dunia ini, termasuk manusia yang tidak terlahir dari rahim seorang ibu, sehingga tidak berlebihan ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah:
“Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?”
Rasulullah menjawab:
“Ibumu, Ibumu, Ibumu, kemudaian Ayahmu dan yang lebih dekat denganmu dan yang lebih dekat denganmu.”
Dalam Aqur’an surat. Luqman ayat 14 Allah SWT berfirman :
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu-Bapaknya, Ibu telah menngandunngnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu”.

Ibu adalah sosok yang tidak bisa digambarkan dengan apapun. Bunga yang indah bahkan dunia seisinya tidak bisa menggantikan jasa seorang ibu, Ibu jauh lebih berharga daripada hal tersebut. Ibu merupakan sosok sempurna yang ada di dunia ini. Bahkan saking sempurnanya, Allah SWT menghadiahkan letak surga yang berada di bawah telapak kakinya. Betapa mulianya ibu.
Bagiku Ibu adalah sosok panutan yang selalu menginspirasi hidupku. Betapa tidak, dia menjadi guru yang pertama dalam hidupku, ketika aku masih kecil dia selalu siap melayaniku 24 jam tanpa minta imbalan. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, dia selalu mendongeng sebagai pengantar tidurku, suatu saat ketika kantuk sudah tak tertahankan beliau terpejam sejenak. Namun, aku belum juga tidur dan memintanya untuk melanjutkan cerita dongengnya.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi, sebelum menyiapkan sarapanku dan adikku yang akan berangkat ke sekolah. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya, selain ayahku, aku dan adikku. Serta merta kalimat, “sudah makan belum?” tak lupa terlontar.
Ibu, tiada kata yang lebih indah dari kata “Ibu”, mengucap, mendengar dan menulis kata ibu, selalu terasa damai. Karena ibuku ibarat malaikat dalam hidupku, Ibuku adalah pahlawan tanpa tanda jasa, dan pemberi tanpa pamrih. Sebesar apapun aku berusaha membalas jasamu, tak akan pernah mampu menandingi kasih sayang dan pengorbananmu.
Ketika aku sakit, ibuku yang rela meninggalkan tidurnya hanya untuk memberikan kehangatan dan kasih sayang yang sempurna. Masa kecilku, aku termasuk anak yang rewel saat makan, tapi ibuku dengan sabar selalu berusaha untuk menyuapiku. Dia selalu mengajarkan kedisiplinan dan kesederhanaan dalam hidupku. Ketika aku masih belum pulang sekolah rasa cemas selalu dirasakan ibuku, begitu aku pulang beliau sudah menyambutku di depan pintu. Senyum sumringah terpancar dari wajahnya yang tulus ketika aku sudah dihadapanya.
Pada tahun 2009, aku merantau ke Surabaya untuk menuntut ilmu ke IKIP Surabaya (sekarang UNESA) dengan berat hati ayah dan ibuku mengantarku ke rumah saudaraku yang ada di kawasan Nginden Surabaya. Sejak itu aku satu bulan sekali pulang ke Nganjuk tanah kelahiranku, untuk melepas rindu kepada orang tua yang sangat berjasa dalam hidupku.
Alhamdulillah tahun 1994 aku lulus dari IKIP Surabaya jurusan pendidikan biologi, ayah dan ibuku mendampingiku saat wisuda. Impianku saat itu sangat ingin kembali ke Nganjuk untuk mengabdikan ilmuku dan agar selalu dekat dengan orang tua tercinta. Tetapi Allah berkehendak lain, sehingga aku hijrah ke Gresik, di kota pudak ini akhirnya aku menikah, bertempat tinggal dan mengajar di SMA Negeri 1 Menganti Gresik yang tidak jauh dari tempat tinggalku.
Dua puluh tahun sudah aku tinggal di Gresik bersama istri tercinta dan anak-anak kesayanganku. Satu bulan sekali selalu aku sempatkan untuk silaturahim ke Ibu di kota angin Nganjuk. Ayahku sudah meninggal 18 bulan yang lalu. Aku istri dan 3 orang anakku sungguh merasakan cinta kasih yang tulus dari seorang ibu dan nenek dari 3 orang anakku. Begitu aku tiba di rumah yang menyimpan jutaan kisah masa kecikul. Rumah yang menyimpan kasih sayang dan rumah yang membentukku sehingga aku bisa seperti sekarang ini. Di depan pintu sudah berdiri seorang perempuan yang paling berjasa dalam hidupku.
Beliau menyambutku dengan penuh rasa hormat. Ia menyambutku dengan penuh rasa kangen. Ia menyambut aku, istriku dan anak-anakku. Ia menyiapkan makanan kesukaanku. Bahkan bisa jadi, dia ingin menyuapiku sebagaimana dia menyuapiku di waktu kecil. Ia melakukan segalanya yang ia bisa lakukan untukku. Dan di saat aku harus kembali ke Gresik, ibuku selalu menyiapkan oleh-oleh, yang nilai kasih sayangnya tidak dapat dibeli dengan seluruh harta yang aku miliki.
Dan kini, waktu menuntutku untuk segera kembali ke Gresik. Jam keberangkatanku sudah tiba. Mobilku sudah menyala di halaman rumah. Ku liahat, ibuku masih mencium anak-anakku, mencium cucu-cucunya yang dia sayangi. Ku lihat mata ibuku yang berkaca-kaca. Ku lihat dengan mata hatiku. Betapa berat ibuku melepasku. Betapa berat ibuku menyongsong jarak. Tapi atas nama seorang ibu yang tidak ingin memaksa anaknya untuk bersamanya. Ia tidak melakukan apa-apa kecuali air mata dan untaian doa.
Mobilku pelan-pelan berjalan. Aku, istriku, dan anak-anakku melambaikan tangan. Aku melihat butiran air mata ibu kian lancar mengalir. Dengan sangat berat, ia melambaikan tangan pula padaku. Dengan sangat berat ia melepasku. Dan dari lambaian tangannya yang gemulai, dari bilik hatinya yang sedih, dari bilik jiwanya yang paling sunyi, dia seolah ingin mengatakan, “Anakku, menantuku, cucuku! Jangan pergi! Jangan pergi!”
Aku sadar bahwa kesuksesanku bukanlah semata-mata karena usahaku, tetapi karena orang tuaku yang telah mendidik dan mendoakanku: Ibu, aku selalu rindu omelan kecilmu, yang mengusir rasa malas dalam hatiku. Ibu, pinjamkanlah aku airmatamu sebentar, agar aku paham, bagaimana rasanya terluka dibalik senyum manismu, bagaimana rasanya lelah dibalik ketegaranmu.
Satu hal yang aku miliki yang paling berharga dalam hidup ini adalah kedua orang tua ku, istri dan anak-anakku tanpamu aku tak mungkin ada di sini. Terimakasih ayah kau telah menjadi ayah yang sempurn untuk aku..Terimakasih ibu kau telah menjadi ibu yang sempurna untuk aku, teima kasih istriku dan anak-anakku kau telah menghias hidupku dengan keceriaan dan kebahagiaan, tanpamu hidupku terasa hampa. Ibu perjuangan dan jasamu tak ternilai untukku. Ku mohon kepada Yaa Allah ampunilah seluruh dosa orang tuaku, kasihi dia sebagaimana dia mengasihi aku ketika masih kecil, siapkan surgamu untuknya Yaa Allah. teristimewa untuk ibuku kuucapkan selamat hari ibu, inspirasimu selalu menghias hidupku. Panjang umur dan sehat selalu untuk ibuku tercinta.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s